Pengobatan Diabetes Melitus Yang Harus Anda Ketahui

Diabetes melitus atau yang sering disebut kencing manis adalah penyakit akibat kadar gula darah yang berlebih. Penyakit ini bersifat genetic atau beresiko untuk diturunkan. Selain itu, pola hidup tak sehat pun berpengaruh terhadap peningkatan resiko. Tanpa pengobatan, diabetes dapat merusak organ tubuh termasuk ginjal, mata, dan saraf. Dari tahun ke tahun, penderitanya semakin bertambah, seiring dengan kesadaran yang kurang akan bahaya penyakit diabetes melitus tersebut. Indonesia sendiri merupakan negara yang berada di urutan ke-4 dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Bahkan jumlah pengidap diabetes terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, terutama untuk DM tipe 2. Data International Diabetes Federation (IDF) 2015 menyebut, jumlah diabetisi 415 juta, dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2040 sekitar 642 juta (55%). Umur penderita diabetes pun kini semakin menurun atau semakin muda.

Pengobatan diabetes melitus

Diabetes melitus dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan penyebabnya.

Yang pertama, diabetes melitus tipe 1 disebabkan akibat kerusakan pada sel β pankreas, sehingga pankreas tidak bisa menghasilkan insulin yang cukup untuk mengubah kadar gula dalam darah menjadi energi. Penyakit diabetes tipe 1 ini sering menyerang orang yang memiliki badan kurus, dan umumnya terjadi pada remaja. DM tipe ini tidak berkembang dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada orang yang memiliki hubungan darah, ditemukan kebanyakan dari mereka yang menderita diabetes tipe 1 telah memiliki auto antibodi tertentu dalam darah mereka. Auto antibodi adalah antibodi yang berubah menjadi jahat dan menyerang jaringan tubuh sendiri. Umumnya antibodi jahat ini telah ada di dalam darah mereka sejak lama atau diwariskan oleh garis keturunan.

gejala penyakit diabetes melitus

Penyebab Penyakit Diabetes Melitus

Kemudian, diabetes melitus tipe 2 disebabkan karena respon tubuh terhadap hormon insulin berkurang, atau terjadinya resistensi insulin sehingga tidak efektifnya kemampuan tubuh dalam memanfaatkan hormon insulin yang dihasilkan pankreas. Umumnya penyakit ini menyerang orang-orang obesitas atau kelebihan berat badan.

Yang ketiga adalah diabetes tipe gestasional yang disebabkan oleh berbagai pengaruh hormon lain, biasanya pada masa kehamilan akibat pengaruh plasenta yang berujung pada hiperglikemia. Diabetes tipe ini juga dapat diturunkan, akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup. Sehingga mungkin akan sulit mengetahui apakah diabetes yang menyerang Anda adalah akibat faktor gaya hidup atau genetik.

Hormon insulin berperan dalam membantu mengontrol kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh. Caranya dengan memberi sinyal pada sel lemak, otot, dan hati untuk mengambil glukosa dari darah dan mengubahnya menjadi glikogen (gula otot) di sel otot, trigliserida di sel lemak, dan keduanya di sel hati. Ketika terjadi penurunan kadar insulin, maka tubuh tidak mampu memanfaatkan glukosa sebagai energi di dalam sel. Akibatnya, glukosa tetap dalam aliran darah dan dapat menyebabkan gula darah tinggi, yang menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Hiperglikemia kronik yang berlangsung lama ini merupakan karakteristik dari diabetes melitus.

Hilangnya kemampuan tubuh mengontrol hormon insulin atau kurangnya produksi insulin menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak dalam tubuh. Glukosa merupakan jenis karbohidrat yang digunakan oleh tubuh kita sebagai sumber energy. Dalam kondisi normal, tubuh kita memang membutuhkan glukosa, namun jika berlebih dan berlangsung secara terus menerus dapat menyebabkan hiperglikemia dan berdampak buruk terhadap kesehatan dan organ tubuh.

Gejala Utama Penyakit Diabetes Melitus

Gejala Diabetes Melitus mulai tampak ketika kadar gula dalam darah mencapai lebih dari 200 mg/dL. Hal ini dapat terjadi tiba-tiba, tetapi dalam banyak kasus gula darah tinggi berkembang selama beberapa hari.
Baca Juga Artikel Ini : Banyaknya Tahi Lalat di Tubuh, Ternyata Semakin Tinggi Resiko Kanker Lho!

Gejala hiperglikemia ditandai dengan:

– mudah lelah

– poliuria (sering buang air kecil)

– polidipsia (mudah haus, mulut terasa kering)

– polifagia (mudah lapar)

– berat badan terus menurun tanpa sebab jelas

– penglihatan kabur

– perasaan bingung

– jika terluka, mudah infeksi

Hiperglikemia dibagi menjadi dua:

Hiperglikemia akut yang mengancam jiwa dan merupakan akibat dari diabetes yang tidak terkontrol adalah hiperglikemia dengan ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar nonketotic.

Hiperglikemia kronis diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan fungsi dari organ-organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.

Ada beberapa kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hiperglikemia (dan diabetes):

Sindrom Cushing, yaitu gangguan hormonal yang ditandai dengan tingginya kadar hormon steroid seperti kortisol, yang biasanya diproduksi oleh kelenjar adrenal. Bisa terjadi karena tumor hipofisis dan kelenjar adrenal, tumor tertentu di daerah lain dari tubuh, dan terapi obat steroid.

Pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas, yang dapat berupa akut atau kronis.

Pecandu alkohol adalah salah satu kelompok berisiko mengalami pankreatitis.

Akromegali , yaitu sekresi hormon pertumbuhan yang berlebihan

Obat-obat tertentu, termasuk beberapa diuretik (obat yang menghilangkan air dari tubuh) dan steroid

Penyakit hati, seperti sirosis hati.

Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus

Tingginya konsentrasi glukosa dalam darah dapat menyebabkan berbagai penyakit serius yang berhubungan karena dapat mempengaruhi organ-organ tubuh lainnya. Berikut adalah beberapa jenis komplikasi penyakit diabetes melitus diantaranya :

komplikasi dalam jangka waktu yang panjang bisa berakibat pada kerusakan pembuluh darah
Terjadinya kerusakan pembuluh darah mikro pada mata
Penderita Penyakit Diabetes melitus dua kali lebih beresiko terkena serangan jantung atau penyakit jantung lainnya
Dapat menyebabkan gagal ginjal / kerusakan pada ginjal. Semakin tinggi glukosa dalam darah semakin berat pula kerja ginjal.
Mempengaruhi mood dan perubahan pada suasana hati
Beresiko pada kerusakan saraf (neuropati)
Infeksi pada kulit dan gusi
Mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, kerusakan pada kulit dan jaringan organ yang susah untuk disebuhkan / gangren dalam beberapa kasus harus dilakukan amputasi untuk mencegah penyebaran keorgan lainnya.
Stroke, koma, dan berbagai penyakit lainnya

Seberapa besar resiko diturunkannya penyakit diabetes melitus terhadap anggota keluarga?

Faktor dan Resiko Diabetes Melitus tipe 1

Faktor keturunan

Seorang anak yang memiliki ayah penderita diabetes melitus tipe 1 mempunyai resiko yang lebih besar menderita diabetes tipe 1 dibandingkan seorang anak dengan ibu yang menderita diabetes melitus tipe 1. Maka dari itu, pernikahan antar sesama penderita diabetes sangat tidak dianjurkan, baik penderita diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2.

Penyakit autoimun

Penyakit ini menyebabkan sel-sel darah putih (leukosit) menyerang dan menyebabkan kerusakan pada organ pankreas. Penderitanya terdeteksi memiliki antibody terhadap insulin (menganggap insulin tubuhnya sendiri sebagai benda asing yang harus diserang).

Faktor lingkungan

Lingkungan contohnya: infeksi virus (gondongan, campak jerman, coxsackie – virus yang masuk ke dalam saluran pencernaan tapi bisa menyebabkan radang selaput otak), bakteri (infeksi gigi), atau sesuatu yang berkaitan dengan nutrisi (memperkenalkan susu sapi terlalu dini).

Faktor Dan Resiko Diabetes Melitus Tipe 2

Meskipun belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang menderita diabetes sedangkan yang lain tidak, namun sudah pasti bahwa beberapa faktor berikut akan meningkatkan resiko Anda untuk mengidap diabetes melitus tipe 2:

Riwayat keluarga

Orang tua atau saudara kandung menderita diabetes, kemungkinan anggota keluarga lainnya akan terkena juga. Hal ini berkaitan dengan pola hidup dan pola makan.

Berat badan berlebih

Sekitar 80 – 85% dari penderita diabetes melitus tipe 2 mengalami kelebihan berat badan bahkan kegemukan/obesitas. Banyaknya jaringan lemak pada orang dengan kelebihan berat badan menyebabkan sel-sel tubuh semakin resisten terhadap insulin. Yang juga tak kalah penting adalah di bagian mana kelebihan berat badan tersebut terjadi. Misal: di perut akan beresiko lebih besar. Akan tetapi, kadar gula darah akan turun seiring dengan penurunan berat badan.

Malas bergerak

Semakin anda kurang aktif dalam bergerak, maka semakin besar pula resiko untuk terkena penyakit diabetes. Manfaat dari aktifitas fisik dan olahraga:

Membantu menurunkan berat badan
Membantu mengubah glukosa sebagai sumber energi.
Membuat sel-sel tubuh lebih sensitif terhadap hormon insulin.
Membantu membentuk otot, sehingga sebagian besar glukosa di dalam darah akan diserap ke dalam otot. Jika anda kekurangan otot akan lebih banyak glukosa yang berada di dalam darah.

Usia

Usia berkaitan dengan makin jarangnya beraktifitas fisik / berolahraga, sehingga lebih sedikit jaringan otot yang terbentuk dan bertambahnya berat badan.

Pernah menderita GDM atau pernah melahirkan bayi dengan berat > 4,1 kg.
Hipertensi (≥ 149 / 90 mmHg)
Hiperlipidemia
HDL ≤ 35 mg/dL, trigliserida ≥250 mg/dL, atau keduanya
Merokok

Diagnosis Penyakit Diabetes Melitus

Diagnosis diabetes melitus dilakukan atas dasar pemeriksaan kadar gula dalam darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan darah yang digunakan yaitu diambil dari pembuluh darah vena. Lalu, lakukan tes tersebut di laboratorium.

Dibawah ini rentang normal hasil pemeriksaan glukosa dalam darah :

Gula Darah Puasa (GDP)

Puasa adalah suatu kondisi tidak ada asupan kalori (tidak makan dan tidak minum) minimal selama 8 jam. Rentang normal dari GDP adalah 80mg/dL-126mg/dL.

Gula Darah 2 jam Setelah Makan

Pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan adalah suatu kondisi dengan beban kalori 75 gram. Rentang normal dari gula darah 2 jam setelah makan adalah 80mg/dl-200mg/dl.

Gula Darah Acak (GDA)

Rentang normal dari GDA adalah 80mg/dL-200mg/dL.

HbA1c

HbA1c atau Hemoglobin A1c adalah komponen minor dari hemoglobin yang berikatan dengan glukosa. Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan yang dapat menggambarkan rata-rata gula darah selama 2-3 buan terakhir sehingga dapat digunakan untuk melihat seberapa baik pengobatan diabetes melitus. Nilai normal HbA1c adalah 4-5,6%,mengindikasikan prediabetes adalah 5,7-6,4% dan mengindikasikan diabetes >6,5%.
Penanganan Penyakit Diabetes Melitus

Penanganan terhadap diabetes melitus harus berdasar pada rekomendasi dokter dengan hasil pemeriksaan terlebih dahulu, yaitu pemeriksaan kadar gula darah. Dibawah ini akan dijelaskan bagaimana cara memaksimalkan dalam penanganan terhadap penderita Diabetes Melitus ataupun yang memiliki resiko terhadap diabetes melitus.

Membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk dapat menjaga kadar glukosa dalam darah.

Yang dapat dilakukan yaitu dengan mengkonsumsi obat seperti yang direkomendasikan oleh dokter, lalu mengonsumsi makanan sehat dan melakukan aktifitas fisik setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuh.

Lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata secara rutin setiap 6 bulan sekali untuk melihat kemungkinan gejala kerusakan retina mata, katarak, dan glaukoma.
Menjaga dan meminimalisir kerusakan dalam sistem kekebalan tubuh.

Peningkatan kadar gula darah dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan tubuh mudah terinfeksi bakteri dan virus. Maka dari itu kita harus menjaga kekebalan tubuh.

Selalu Menjaga kondisi kaki

Cara yang dapat dilakukan yaitu, mencuci kaki setiap hari dengan menggunakan air hangat lalu keringkan dengan handuk yang kering dan bersih bila perlu gunakan lotion untuk melembabkan kaki dan jangan lupa untuk memeriksa kaki setiap hari untuk melihat adanya lecet, luka, kemerahan atau bengkak.

Selalu menjaga agar tekanan darah dan kadar kolesterol tetap normal dengan cara mengonsumsi makanan sehat dan melakukan olahraga setiap hari.
Jangan merokok

Baca Juga Artikel Ini : Banyaknya Tahi Lalat di Tubuh, Ternyata Semakin Tinggi Resiko Kanker Lho!

Untuk seorang perokok lebih baik berhenti merokok karena merokok dapat meningkatkan resiko terhadap terjadinya komplikasi diabetes, seperti jantung, stroke, kerusakan saraf dan penyakit ginjal. Perokok yang menderita diabetes melitus memiliki resiko tiga kali lebih tinggi dari pada penderita diabetes non-perokok.

Berhenti mengonsumsi alkohol

Minuman yang mengandung alkohol dapat meningkatkan kadar gula dalam darah terutama jika dikonsumsi bersamaan dengan makan.

Mengurangi stress

Jika kita dalam keadaan stress, maka hormon tubuh yang keluar karena stress dapat mencegah insulin bekerja dengan baik.
Pengobatan Diabetes Melitus
Untuk mencapai kendali gula darah pada diabetisi diperlukan beberapa kegiatan serta pengobatan yang terpadu dalam satu pengelolaan holistik, meliputi edukasi, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemberian obat-obatan, dan pemantauan glukosa darah mandiri (PGDM)

PGDM merupakan kesatuan dalam pengelolaan diabetes melitus, yaitu pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan oleh diabetisi sendiri dan atau keluarganya menggunakan alat glukometer. Pemantauan glukosa darah dapat mendukung keberhasilan pencapaian target pengendalian glukosa darah, sehingga dapat mengurangi risiko komplikasi (makrovaskular dan mikrovaskular) pada diabetisi tipe 1 (DMT1) maupun tipe 2 (DMT2). PGDM dapat dilakukan secara mandiri setelah mendapat edukasi dari tenaga kesehatan terlatih.
Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus
Tips agar dapat menghindari resiko terhadap penyakit diabetes melitus, yaitu dengan cara melakukan pola hidup yang sehat. Berikut adalah pola hidup yang dapat mencegah penyakit diabetes melitus :

Jangan merokok
Mengatur pola makan

Seimbangkan kadar gula darah dengan diet dan ikuti cara memasak yang sehat:

Kurangi asupan kalori: kurangi porsi makan bukan frekuensi makan (makan tetap tiga kali, tapi dengan porsi yang lebih sedikit)
Batasi makanan yang kaya karbohidrat (nasi, roti, mie) dalam makanan yaitu 55 – 60%
Pilih karbohidrat kompleks bukan karbohidrat sederhana
Perbanyak makanan yang kaya akan serat (buah dan sayur)
Batasi konsumsi lemak < 30% dari komposisi makanan Pilih makanan yang rendah kadar lemak, misal: ikan, daging tak berlemak, ayam tanpa kulit. Masak makanan dengan cara direbus atau dipanggang, bukan digoreng. Jika ingin membuat kue, gunakan margarin sebagai pengganti mentega. Jika mengonsumsi susu, pilih susu low-fat atau skim (susu segar yang bagian batasnya / kepala susu sudah dibuang). Melakukan aktifitas fisik Lakukan aktifitas fisik / olahraga setiap hari minimal selama 30 menit, misal: jalan kaki pagi hari. Olahraga terbukti membantu menurunkan kadar gula darah. Agar tidak terjadi hipoglikemia (kadar glukosa turun terlalu rendah) pada saat atau setelah berolahraga, maka penderita dianjurkan untuk makan dulu 1 – 2 jam sebelum melakukan olahraga. Tetapi perlu diingat bahwa olahraga tidak dianjurkan apabila penderita dalam kondisi sebagai berikut: Kadar gula darah puasa > 250 mg/dL: ada bahaya dehidrasi atau denyut jantung terlalu cepat
Kadar gula darah sewaktu < 100 mg/dL: ada bahaya hipoglikemia
Ada bahaya cedera atau hipoglikemia.

Menjaga berat badan ideal

Jika mengalami kegemukan atau obesitas maka diperlukan usaha untuk menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal. Turunkan berat badan agar tercapai rentang yang sehat. Berat badan yang berlebih akan menyebabkan hormone insulin tidak dapat bekerja maksimal.

Leave a Comment